Long Berini, Desa di Pedalaman Kalimantan

1788498609025.jpeg
Gambar: Long Berini ( Desi Marlena Lenggang ) Sumber: https://longberini.desa.id/

Jauh dari pusat keramaian kota, Desa Long Berini menyimpan kehidupan masyarakat yang masih begitu dekat dengan alam dan tradisi leluhur. Desa yang berada di pedalaman Kalimantan Utara ini merupakan salah satu wilayah yang berada dekat dengan perbatasan Indonesia dan Malaysia. Long Berini menjadi desa kedua yang dekat dengan kawasan perbatasan setelah Desa Apauping. Bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya, Long Berini bukan sekadar tempat untuk bermukim. Tanah, sungai, hutan, ladang, serta adat yang diwariskan dari generasi sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Sejarah Long Berini tidak dapat dipisahkan dari perjalanan masyarakatnya dalam mencari tempat untuk menetap. Sebelum menempati wilayah yang sekarang dikenal sebagai Long Berini, masyarakat pada awalnya tinggal di daerah Long Aking. Sekitar tahun 1930, masyarakat mulai menempati tanah Berini. Perpindahan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan terbentuknya kehidupan masyarakat Long Berini hingga sekarang.

Tiga tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1933, berdiri rumah adat atau biasa orang dayak sebut BPU (Balai Pertemuan Umum) yang menjadi salah satu penanda penting dalam sejarah kehidupan masyarakat. Rumah adat tersebut tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga berfungsi sebagai ruang bersama bagi masyarakat. Berbagai kegiatan dilakukan di rumah adat, mulai dari pertemuan masyarakat, rapat, hingga pelaksanaan berbagai acara dan kegiatan lainnya. Keberadaan rumah adat menunjukkan bahwa ruang tersebut memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat Long Berini. Bagi masyarakat, rumah adat menjadi tempat untuk berkumpul, berdiskusi, dan menjalankan berbagai kegiatan bersama. Fungsinya yang terus digunakan hingga sekarang juga menjadi salah satu bentuk bagaimana peninggalan dari generasi sebelumnya tetap memiliki tempat dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Kondisi geografis Long Berini juga memiliki hubungan erat dengan keberadaan sungai. Di wilayah ini terdapat dua sungai yang dikenal sebagai Sungai Berini dan Sungai Bau. Sungai Berini merupakan aliran yang relatif kecil, sedangkan Sungai Bau memiliki aliran yang lebih besar. Keberadaan kedua sungai tersebut menjadi bagian dari lingkungan tempat masyarakat menjalani kehidupan sehari-hari. Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman, sungai memiliki arti penting. Selain menjadi bagian dari bentang alam desa, sungai juga dapat menjadi jalur yang menghubungkan masyarakat dengan wilayah lainnya.

Kondisi geografis seperti ini turut membentuk kehidupan masyarakat Long Berini. Ketika akses jalan darat masih menghadapi berbagai keterbatasan, jalur air menjadi salah satu pilihan penting untuk melakukan perjalanan.

Masyarakat Desa Long Berini berasal dari suku Dayak Kenyah Lepu Ma'ut. Identitas tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Kehidupan sehari-hari masyarakat masih sangat dekat dengan alam. Pergi ke ladang menjadi salah satu aktivitas yang dilakukan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup. Selain bertani, masyarakat juga melakukan kegiatan mencari gaharu dan berburu. Aktivitas tersebut memperlihatkan hubungan yang kuat antara masyarakat dengan lingkungan di sekitarnya. Hutan, ladang, dan sungai bukan sesuatu yang terpisah dari kehidupan masyarakat, melainkan menjadi bagian dari ruang hidup mereka. Kehidupan yang dekat dengan alam juga membuat masyarakat memiliki pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pengetahuan mengenai lingkungan dan cara menjalani kehidupan di wilayah pedalaman menjadi bagian dari kekayaan masyarakat Long Berini.

Di tengah perkembangan zaman, adat dan budaya leluhur masih dipertahankan oleh masyarakat Long Berini. Salah satu tradisi yang dilakukan setiap tahun adalah pesta panen. Pesta panen menjadi salah satu momen penting bagi masyarakat. Tradisi tersebut berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat yang sebagian besar masih bergantung pada kegiatan berladang.

Selain pesta panen, membuka lahan baru untuk berladang juga menjadi bagian dari aktivitas masyarakat. Kegiatan berladang tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga berhubungan dengan kehidupan dan tradisi masyarakat. Menariknya, masyarakat Long Berini tidak hanya berusaha mempertahankan adat dalam bentuk yang sama seperti masa lalu. Adat dan budaya juga terus dikembangkan agar dapat berjalan seiring dengan perubahan zaman. Dengan demikian, perkembangan zaman tidak serta-merta menghilangkan identitas masyarakat. Sebaliknya, masyarakat terus mencari cara agar warisan leluhur tetap dapat hidup di tengah kehidupan modern.

Salah satu tantangan yang masih dirasakan masyarakat Long Berini adalah akses menuju wilayah lain, terutama menuju kota. Kondisi jalan darat yang belum stabil membuat perjalanan tidak selalu mudah. Dalam keadaan tertentu, jalur air menjadi pilihan yang lebih dapat diandalkan. Sungai yang menjadi bagian dari lingkungan Long Berini sekaligus berperan dalam membantu mobilitas masyarakat.

Keterbatasan akses tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di pedalaman. Namun, di balik perjalanan yang tidak mudah, Long Berini menyimpan kehidupan yang masih tenang dan asri.

 

Bagikan post ini: